Ibn Khladun adalah
perkecualian dari dunia pemikiran Arab. Di saat dunia pemikiran Arab mengalami
kemandegan, Ibn Khaldun justru muncul dengan pemikirannya yang cemerlang. Ibn
Khaldun yang bernama lengkap Abu Zaid Abd-Ar-Rahman Ibn Khaldun (1332-1406),
seorang sejarawan besar Islam pada abad pertengahan. Khaldun lahir pada 27 Mei
1332 di Tunis (sekarang Tunisia). Keluarga Ibn Khaldun berasal dari Hadramaut
dan masih memiliki keturunan dengan Wail Bin Hajar, salah seorang sahabat Nabi SAW.
Khaldun yang terlahir dari keluarga Arab-Spanyol sejak
kecil sudah dekat dengan kehidupan intelektual dan politik. Ayahnya, Muhammad
Bin Muhammad seorang mantan perwira militer yang gemar mempelajari ilmu hukum,
teologi, dan sastra. Bahkan di usia 17, Khaldun telah menguasai ilmu Islam
klasik termasuk ulum, aqliyah (ilmu kefilsafatan, tasawuf, dan metafisika).
Tunisia ketika itu merupakan pusat para ulama dan sastrawan yang memungkinkan
Ibn Khaldun muda banyak belajar dari mereka.
Nah ini ada sedikit makalah yng saya susun tentang pemikiran Ibnu Khaldun...
BABI
PENDAHULUAN
A.
LATAR BELAKANG
Filsafat merupakan merupakan suatu kegiatan atau aktifitas yang
menempatkan pengetahuan atau kebijaksanaan sebagai sasaran utamanya,selain itu
juga filsafat adalah berfikir secara mendalam , sistematik, radikal, universal,
dalam rangka mencari kebenaran, inti atau hakikat mengenai segala sesuatu yang
ada. Falsah yang kita kehendaki adalah suatu pemikiran yang serba mendalam,
mendasar, sistematis, terpadu, logis, menyeluruh, serta universal yang tertuang
atau yang tersusun dalam bentuk pemikiran atau konsepsi sebagai suatu sistem. Disini
sistem merupakan suatu keseluruhan yang bulat yang terdiri dari suatu
komponen-komponen yang satu sama lain mempunyai kaitan pengertian kebulatan
yang utuh. Dikaitkan dengan islam jelas bahwa falsafah merupakan suatu
pelahiran dari berbagai sumber daya pikiran, perasaan dan kemauan yang
bersumberkan ajaran agama islam.Hal ini dinyatakan oleh ahli pikir sebagai
suatu yang bernafaskan islam disepanjang waktu dan tempat. Di dalam makalah ini
akan diulas mengenai sebuah pemikian dari ibn Khaldun secara menyeluruh tentang
ajaran-ajaran atau pandangannya dalam islam.
B.
RUMUSAN MASALAH
1. Bagaimanakah pemikiran Ibn Kaldun dalam islan?
2. Bagaimana pandangan dan metode pengajaran menurut Ibn Khaldun?
B.
TUJUAN
Untuk mengetahui pemikiran Ibn Kaldun dan
mengetahui pandangan serta metode pengajaran yang digunakan oleh Ibn Kaldun.
BAB
II
PEMBAHASAN
Pedidikaan
Islam Dalam Pemikiran Ibn Khaldun
A.
Riwayat Singkat Hidup Ibn Khaldun
Sebuah ciri khas yang melatar belakangi kehidupan ibn khaldun adal
ia berasal dari keluarga politisi, intlektual, dan aristokrat. Latar belakang
kehidupan yang jarang dijumpai orang. Keluarganya sebelum menyebrang ke afrika,
adalah para pemimpin politik di moorish,Spanyol, selama beberapa abad. Dalam
keluarga elit semacam inilah ia dilahirkan pada tanggal 7 Mei 1332 di Tunisia.
Oleh ayahnya ia diberi nama Abdur Rahman Abu Zayd ibn Muhammad Ibn Khaldun.
Latar belakang keluarga dan situasi saat dilahirkannya tampaknya
merupakan faktor yang menetukan dalam perkembangan pemikirannya. Keluarga telah
mewariskan tradisi intelektual kepada dirinya, sedangkan masa ketika ia hidup yang ditandai oleh jatuh bangunnya
dinasti-dinasti islam, terutama dinasti umayyah dan dinasti abbasiyah
memberikan kerangka berfikir dan teori-teori ilmu sosialnya serta filsafatnya.
Sebagaimana para pemikir islam lainnya, pendidikan masa kecilnya
berlangsung secara tradisional. Artinya ia harus belajar membaca al qur’an,
hadits, fiqih, sastra dan nahwu shorof dengan sarjana-sarjana terkenal pada
waktu itu. Pada umur 20 tahun ia bekerja sebagai sekertaris sultan Fez di
Maroko. Jatuhnya dinasti al-Muwahidun telah mempengaruhi proses kehidupannya.
Konflik dan perang saudara terjadi di sana sini. Suasana itu ditandai dengan
terjadinya perebutan kekuasaan diantara putera-putera mahkota dan tuan-tuan
tanah yang menurut Isawi, pindah dari kekuasaan yang satu kekeuasaan yang lain
dengan kecepatan yang mengherankan. Hasut menghasut, pembunuhan dan pemberontakan
merupakan adegan yang biasa terjadi. Ibn khaldun meski sempat dipenjarakan dua
tahun, ia tetap hidup di tengah-tengah malapetaka itu.
Selanjutnya pada tahun 1362 M , Ibn Khaldun menyeberang ke Spanyol
dan bekerja pada Raja Granada. Di Granada ia menjadi utusan raja untuk
berunding dengan Pedro,Raja Granada,Raja Castila, sedangkan di Sevilla, karena
kecakapannya yang luar biasa, ia ditawari bekerja oleh penguasa kristen itu.
Sebagai imbalannya, tanah-tanah bekas milik keluarganya di kembalikan kepada
Ibn Khaldun, tetapi Ibn kaldun memilih tawaran yang sama dari raja Granada.
Kesanalah ia memboyong keluarganya ke Afrika.
Khaldun tidak lama di Granada. Kecakapan dan prestasinya yang
diperlihatkan selama itu setelah menimbulkan iri hati para menteri. Itulah
sebabnya ia mencari menyebrangi Giblatar untuk kembali ke Afrika, kemudian ia
diangkat menjadi Perdana Mentri oleh Sultan Aljazair dan beberapa kali memimpin
pasukan tentara dalam medan pertempuran.
Ketenangan hidup baru ia jumpai setelah melepaskan semua jabatan
resminya. Dan pada waktu itu menciptakan karyanya yang monumental, yaitu Muqaddimah dan kitab Sejarah Alam Semesta.setelah itu ia
kembali ke Tunisia. Namun oleh karena itu ia menghadapi masalah yang sama
seperti yang dialami di Granada, maka ia memutuskan diri untuk naik haji. Dan
pada tahun 1382 M, ia pergi ke iskandariah. Tetapi dalam perjalanan hajinya ia
singgah di Mesir. Rakyat dan raja Mesir yang cukup mengenal reputasi khaldunlah
yang menyebabkan ia tidakmelanjutkan perjalanan hajinya. Di daerah ini ia di
tawari jabatan guru kemudian ketua Mahkamah Agung dibawah pemerintahan Dinasti
Mamluk.
Dengan jabatan yang terakhir
itu, ia bukan saja mengalami masalah sama yang dialami di Granada dan Aljazair,
tetapi juga telah menyebabkan ia kehilangan keluarga dan harta bendanya.
Musibah semacam ini, disamping membuat ian menjadi semakin taat, juga telah
membangkitkan kembali niat untuk menunaikan hajinya. Niat itu baru terlaksana
tiga tahun kemudian, yaitu pada tahun 1387 M. Namun, untuk hidup tenang di
Kairo setelah pulang haji tidak tercapai. Sebab, kemampuannya yang luas itu
telah mengundang Sultan Mamluk untuk memanfaatkannya. Bersama-sama dengan hakim
dan ahli hukum lainnya ia dibawa sultan ke Damaskus, kota yang terancam
gempuran tentara Timur Lenk. Damaskus tidak dapat dipertahankan dan sultan
bersama tentaranya mundur ke Mesir. Namun Khaldun dan beberapa orang terkemuka
lainnya tetap tibak pulang. Ia diserahi tugas berunding mengenai penyerahan
kota itu ke tangan Timur Lenk. Di tangan Timur Lenk, Damaskus dihancurkan.
Tetapi khaldun berhasil menyelamatkan bukan hany dirinya, melainkan juga
beberapa orang terkemuka anggota tim perundingan ke Mesir. Di Mesir ia tetap
menjadi seorang besar. Sebab tidak lama kemudian ia kembali kejabatannya semula,
sebagai Ketua Makhamah Agung. Ia meninggal pada tahun 1406 M dalam usia 74 tahun, bersama jabatan yang
dipegangnya. Kini Ibn Khaldun selain dikenak sebagai filosof, juga sebagai
sosiolog yang memiliki perhatian yang besar terhadap bidang pendidikan. Hal ini
antara lain terlihat dari pengalamannya sebagai guru yang berpindah-pindah dari
satu tempat ke tempat yang lain.
B.
Konsep Pendidikan Ibn Khaldun
1.
Pandangan tentang manusia didik
Menurut khaldun, manusia bukan merupakan produk nenek moyangnya,
akan tetapi produk sejarah, lingkungan sosial, lingkungan alam, adat istiadat.
Karena itu, lingkungan sosial merupakan pemegang tanggungjawab dan sekaligus
memberikan corak perilaku seorang manusia. Hal ini memberikan arti, bahwa
pendidikan menempati posisi sentral dalam membentuk manusia ideal yang
diinginkan.
Pandangan khaldun tentang pendidikan islam berpijak pada konsep dan
pendekatan filosofis empiris. Melalui pendekatan ini, memberikan arah terhadap
visi tujuan pendidikan islam secara ideal dan praktis. Meski ia tidak
mengkhususkan sebuah bab atau pembahasan mengenai tujuan pendidikan islam,
namun dari uraiannya memberikan kesimpulan terhadap arah tujuan pendidikan yang
diinginkan. Menurutnya, paling tidak ada 3 tingkatan tujuan yang hendak dicapai
dalam proses pendidikan, yaitu:
1)
Pengembangan kemahiran (al-malakah
atau skill) dalam bidang tertentu. Orang awam bisa memiliki pemahaman yang
sama tentang suatu persoalan dengan seorang ilmuan. Akan tetapi, potensi
al-malakah tidak bisa dimiliki oleh setiap orang, kecuali setelah ia
benar-benar memahami dan mendalami satu disiplin tertentu. Dalam hal ini,
diperlukan pendidikan yang sistematis dan mendalam.
2)
Penguasaan keterampilan profesional sesuai dengan tuntutan zaman
(link and match). Dalam hal ini, pendidikan hendaknya ditujukan untuk
memperoleh keterampilan yang tinggi pada profesi tertentu. Pendekatan ini akan
menunjang kemajuan dan kontinuitas sebuah kebudayaan, serta peradaban umat
manusia di muka bumi. Pendidikan yang meletakkan keterampilan sebagai salah
satu tujuan yang hendak dicapai, dapat diartikan sebagai upaya mempertahankan
dan memajukan peradaban secara keseluruhan.
3)
Pembinaan pemikiran yang baik. Kemampuan berfikir merupakan garis
pembeda antara manusia dengan binatang. Oleh karena itu pendidikan hendaknya
diformat dan dilaksanakan dengan terlebih dahulu memperhatikan pertumbuhan dan perkembangan
potensi-potensi psikologis peserta didik. Melalui pengembangan potensi akal,
akan dapat membimbing peserta didik untuk menciptakan hubungan kerjasama sosial
dalam kehidupannya, guna mewujudkan kesejahteraan hidup di dunia dan akhirat.
Untuk mencapai tujuan tersebut, maka keberadaan pendidikan merupakan
kebahagiaan integral dari konstruksi sebuah peradaban. Proses ini merupakan
upaya mulia karena berhubungan dengan penyebaran ilmu pengetahuan. Upaya
tersebut merupakan salah satu tugas manusia sebagai khalifah fi al-ardh.
Seorang pendidik hendaknya memiliki pengetahuan yang memadai
tentang perkembangan psikologis peserta didik. Pengetahuan ini akan sangat
membantunya untuk mengenal setiap individu peserta didik dan mempermudah dalam
melaksanakan proses belajar mengajar. Para pendidik hendaknya mengetahui
kemempuan dan daya serap peserta didik. Kemampuan ini akan bermanfaat bagi
memtapkan materi pendidikan yang sesuai dengan tingkat kemampuan peserta didik.
Bila pendidik memaksakan materi diluar kemampuan peserta didiknya,maka akan
menyebabkan kelesuan mental bahkan kebencian terhadap ilmu pengetahuan yang
diajarkan. Bila ini terjadi, maka akan menghambat proses pencapaian tujuan
pendidikan. Oleh karena itu diperlukan keseimbangan antara materi pelajaran
yang sulit dan mudah dalam cakupan materi pendidikan.
2.
Pandangan tentang ilmu
Selanjutnya Ibn
Khaldun mengatakan bahwa adanya perbedaan lapisan sosial timbul dari hasil
kecerdasannya yang diproses melalui pengajaran. Hal ini berbeda dengan apa yang
diduga oleh sebagian orang yang mengatakan bahwa peradaban ini bersumber pada
perbedaan hakekat kemanusiaan.
Berkenaan
dengan ilmu pengetahuan, Ibn Khaldun membaginya menjadi tiga macam, yaitu:
a.
Ilmu lisan (bahasa) yaitu ilmu tentang tata bahasa (gramatika),
sastra atau bahasa yang tersusun secara puitis (sya’ir).
b.
Ilmu naqli, yaitu ilmu yang diambil dari kitab suci dan sunnah
nabi, ilmu ini berupa membaca kitab suci al-qur’an dan tafsirnya, sanad dan
hadits yang pentashihannya serta istimbat tentang kaidah-kaidah fiqh. Dengan
ilmu ini manusia akan dapat mengetahui hukum-hukum Allah yang diwajibkan kepada
manusia. Dari al-qur’an itulah didapati
ilmu tafsir, ilmu ushul fiqih yang dapat dipakai untuk menganalisa hukum-hukum
Allah itu melalui cara istimbath.
c.
Ilmu aqli, yaitu ilu yang dapat menunjukkan manusia dengan daya
fikir atau kecenderungannya kapada filsafat dan semua ilu pengetahuan. Termasuk
didalam katagori ilmu ini adalah ilmu mantiq (logika), ilmu alam, ilmu
ketuhanan, ilmu teknik,ilmu hitung,ilmu tingkah laku (behavior) manusia,
termasuk juga ilmu sihir dan ilmu nujum (perbintangan). Mengenai ilmu nujum,
Ibn Khaldun menganggapnya sebagai ilmu yang fasid, karena ilmu ini dapat
digunakan untuk meramal segala kejadian sebelum terjadi atas dasar
perbintangan. Hal itu merupakan sesuatun yang bathil, berlawana dengan ilmu
tauhid yang menegaskan bahwa tidak ada yang menciptakan kecuali Allah sendiri.
Diantara ilmu tersebut ada yang harus diajarkan kapada anak
didik yaitu :
1.
Ilmu syari’ah dengan segala jenisnya.
2.
Ilmu filsafat seperti ilmu alam dan ilmu ketuhanan.
3.
Ilmu alat yang membantu ilmu agama seperti ilmu bahasa, gramatika,
dan sebagainya.
4.
Ilmu alat yang membantu ilmu falsafah seperti ilmu mantiq.
Selain
itu Ibn Khaldun berpendapat bahwa al0qur’an adalah ilmu yang pertama kali harus
diajarkan kepada anak, karan mengajarkan kepada anak-anak termasuk syari’at
islam yang dipegang teguh oleh para ahli agama dan dijunjung tinggi oleh setiap
negara islam. Al-qur’an yang telah ditanamkan pada anak didik akan jadi
pegangan hidupnya, karena pengajaran pada masa kanak-kanak masih mudah, karena
otak si anak masih jernih.
3.
Metode pengajaran
Menurut ibn
khaldun bahwa mengajarkan pengetahuan kepada pelajar hanyalah akan bermanfaat
apabila dilakukan denga berangsur-angsur, setapak demi setapak dan sedikit demi
sedikit. Pertama-tama ia harus diberi pelajaran tentang soal-soal mengenai
setiap cabang pembahasan yang dipelajarinya. Keterangan-keterangan yang
diberikan harus secara umum, dengan memperhatikan kekuatan fikiran pelajar dan
kesanggupannya memahami apa yang diberikan kepadanya. Apabila dengan jalan itu
seluruh pembahasan pokok telah dipahami, maka ia telah memperoleh keahlian
dalam cabang ilmu pengetahuan tersebut, tetapi itu baru sebagian keahlian yang
belum lengkap. Sedangkan hasil keseluruhannya dengan segala seluk-beluknya.
Untuk itu jika pembahasan yang pokok itu belum dicapai dengan baik, maka harus
diulanginya kembali hingga dikuasai benar.
Kita menyaksikan banyak guru dari generasi
kita ini yang tidak tahu sama sekali tentang cara-cara mengajar, akibatnya
memberikan pelajaran kepada pelajar sejak dari permulaan hingga akhir
permasalahan-permasalahan yang sukar dan menuntutnya supaya memecahkan
masalah-masalah tersebut.
Dalam hubungannya
dengan ilmu kepada anak didik, Ibn Khaldun menhajarkan agar para guru
mengajarkan ilmu penetahuan kapada anak didik dengan metode yang baik dan
mengetahui faedah yang dipergunakannya dan seterusnya. Ibn Khaldun lebih lanjut
mengemukakan kesulitan yang dihadapi pelajar yang didasarkan pada
penglihatannya yang tajam terhadap para pelajar yang dijumpainya. Kesalahan
tersebut disebabkan karena para pendidik tidak menguasai ilmu jiwa anak.
Menurutnya seseorang yang dahulunya diajarkan dengan cara kasar, keras dan
cacian, akan mengakibatkan gangguan jiwa pada si anak.anak yang demikian
cenderung menjadi pemalas dan pendusta, murung dan tidak percaya diri serta
berpengarai buruk, memgemukakan sesuatu yang tidak sesuai dengan keadaan yang
sebenarnya yang disebabkan ia merasa takut dipukul.
Sejalan dengan
pemikirannya itu, Ibn khaldun menganjurkan agar pendidik bersifat sopan dan
halus pada muridnya. Hal ini termasuk juga sikap orang tua sebagai pendidik
yang utama. Selanjutnya jika keadaan memaksa harus memulul si anak, maka
pukulan tersebut tidak boleh lebih dari tiga kali.
4.
Spesialisasi
Menurut Ibn
khaldun,orang yang mendapat keahlian dalam suatu pertukangan jarang sekali yang
ahli dalam pertukangan lainnya, misalnya tukang jahit. Hal ini disebabkan
karena sekali seseorang telah menjadi ahli dalam menjahit hingga keahliannya
itu hingga tertanam berurat berakar dalam jiwanya, maka setelah itu dia tidak
akan ahli dalm pertukangan kayu dan batu, kecuali apabila keahlian yang pertama
itu belum tertanam dengan kuat dan belum memberi corak terhadap pemikirannya.
Hal ini juga didasarkan pada alasannya bahwa keahlian itu adalah sikap atau
corak jiwa yang tidak dapat tumbuh serempak. Dan mereka yang pikirannya masih
mentah, dan dalam keadaan masih kosong akan lebih mudah mendapat
keahlian-keahlian baru yang dapat mereka peroleh dengan lebih mudah. Tetapi
apabila jiwa itu telah bercorak dengan semacam keahlian tertentu dan tidak lagi
dalam keadaan kosong, maka cetakan keahlian itu akan menjadikan jiwa itu kurang
tertarik dan kurang bersedia menerima keahlian-keahlian baru.
Dari uraian
tersebut di atas, terlihat bahwa Ibn Khaldun adalah seorang tokoh yang menaruh
perhatian yang besar terhadap pendidikan. Konsep pendidikan yang dikemukakannya
tampak sangat dipengaruhi oleh pandangannya terhadap manusia sebagai makhluk
yang harus di didik, dalam rangka menjalankan fungsi sosialnya ditengah-tengah
masyarakat. Pendidikan adalah alat untuk membantu seseorang agar tetap hidup
bermasyarakat dengan baik.
BAB III
PENUTUP
A.
KESIMPULAN
Filsafat adalah berfikir
secara mendalam ,sistematik, radikal, universal, dalam rangka mencari
kebenaran, inti atau hakikat mengenai segala sesuatu yang ada. Menurut
Ibn Kaldun ada suatu konsep pendidikan yang perlu untuk dibahas yaitu:
ü Pandangan
tentang manusia didik
Disini manusia
harus saling tolong menolong ,yang kemudian memiliki sikap hidup bermasarakat.
ü Pandangan
tentang ilmu
Kaldun membagi
menjadi tiga macam ilmu yaitu ilmu lisan,ilmu naqli,ilmuaqli.
ü Pandangan
tentang metode pengajaran
Kaldun berpendapat
pengajaran dilakukan secara berangsur dan perlahan.
ü Spesialisasi
Orang yang mendapat keahlian dalam suatu pertukaran jarang sekali
yang ahli dalam pertukaran lainnya.
B.
SARAN
ü Dengan adanya
berbagai pemikiran mahasiswa dapat berfikir yang lebih baik.
ü Dapat dijadikan
tambahan berfikir yang logis dan sistematis.’b

Tidak ada komentar:
Posting Komentar