Selasa, 25 Desember 2012

PEMIKIRAN IBNU KHALDUN



Ibn Khladun adalah perkecualian dari dunia pemikiran Arab. Di saat dunia pemikiran Arab mengalami kemandegan, Ibn Khaldun justru muncul dengan pemikirannya yang cemerlang. Ibn Khaldun yang bernama lengkap Abu Zaid Abd-Ar-Rahman Ibn Khaldun (1332-1406), seorang sejarawan besar Islam pada abad pertengahan. Khaldun lahir pada 27 Mei 1332 di Tunis (sekarang Tunisia). Keluarga Ibn Khaldun berasal dari Hadramaut dan masih memiliki keturunan dengan Wail Bin Hajar, salah seorang sahabat Nabi SAW.

Khaldun yang terlahir dari keluarga Arab-Spanyol sejak kecil sudah dekat dengan kehidupan intelektual dan politik. Ayahnya, Muhammad Bin Muhammad seorang mantan perwira militer yang gemar mempelajari ilmu hukum, teologi, dan sastra. Bahkan di usia 17, Khaldun telah menguasai ilmu Islam klasik termasuk ulum, aqliyah (ilmu kefilsafatan, tasawuf, dan metafisika). Tunisia ketika itu merupakan pusat para ulama dan sastrawan yang memungkinkan Ibn Khaldun muda banyak belajar dari mereka.
Nah ini ada sedikit makalah yng saya susun tentang pemikiran Ibnu Khaldun...


BABI
PENDAHULUAN

A.    LATAR BELAKANG
Filsafat merupakan  merupakan suatu kegiatan atau aktifitas yang menempatkan pengetahuan atau kebijaksanaan sebagai sasaran utamanya,selain itu juga filsafat adalah berfikir secara mendalam , sistematik, radikal, universal, dalam rangka mencari kebenaran, inti atau hakikat mengenai segala sesuatu yang ada. Falsah yang kita kehendaki adalah suatu pemikiran yang serba mendalam, mendasar, sistematis, terpadu, logis, menyeluruh, serta universal yang tertuang atau yang tersusun dalam bentuk pemikiran atau konsepsi sebagai suatu sistem. Disini sistem merupakan suatu keseluruhan yang bulat yang terdiri dari suatu komponen-komponen yang satu sama lain mempunyai kaitan pengertian kebulatan yang utuh. Dikaitkan dengan islam jelas bahwa falsafah merupakan suatu pelahiran dari berbagai sumber daya pikiran, perasaan dan kemauan yang bersumberkan ajaran agama islam.Hal ini dinyatakan oleh ahli pikir sebagai suatu yang bernafaskan islam disepanjang waktu dan tempat. Di dalam makalah ini akan diulas mengenai sebuah pemikian dari ibn Khaldun secara menyeluruh tentang ajaran-ajaran atau pandangannya dalam islam.
B.     RUMUSAN MASALAH
1.    Bagaimanakah pemikiran Ibn Kaldun dalam islan?
2.    Bagaimana pandangan dan metode pengajaran menurut Ibn Khaldun?

B.     TUJUAN
Untuk mengetahui pemikiran Ibn Kaldun dan mengetahui pandangan serta metode pengajaran yang digunakan oleh Ibn Kaldun.

BAB II
PEMBAHASAN
Pedidikaan Islam Dalam Pemikiran Ibn Khaldun

A.    Riwayat Singkat Hidup Ibn Khaldun
Sebuah ciri khas yang melatar belakangi kehidupan ibn khaldun adal ia berasal dari keluarga politisi, intlektual, dan aristokrat. Latar belakang kehidupan yang jarang dijumpai orang. Keluarganya sebelum menyebrang ke afrika, adalah para pemimpin politik di moorish,Spanyol, selama beberapa abad. Dalam keluarga elit semacam inilah ia dilahirkan pada tanggal 7 Mei 1332 di Tunisia. Oleh ayahnya ia diberi nama Abdur Rahman Abu Zayd ibn Muhammad Ibn Khaldun.
Latar belakang keluarga dan situasi saat dilahirkannya tampaknya merupakan faktor yang menetukan dalam perkembangan pemikirannya. Keluarga telah mewariskan tradisi intelektual kepada dirinya, sedangkan masa ketika ia  hidup yang ditandai oleh jatuh bangunnya dinasti-dinasti islam, terutama dinasti umayyah dan dinasti abbasiyah memberikan kerangka berfikir dan teori-teori ilmu sosialnya serta filsafatnya.
Sebagaimana para pemikir islam lainnya, pendidikan masa kecilnya berlangsung secara tradisional. Artinya ia harus belajar membaca al qur’an, hadits, fiqih, sastra dan nahwu shorof dengan sarjana-sarjana terkenal pada waktu itu. Pada umur 20 tahun ia bekerja sebagai sekertaris sultan Fez di Maroko. Jatuhnya dinasti al-Muwahidun telah mempengaruhi proses kehidupannya. Konflik dan perang saudara terjadi di sana sini. Suasana itu ditandai dengan terjadinya perebutan kekuasaan diantara putera-putera mahkota dan tuan-tuan tanah yang menurut Isawi, pindah dari kekuasaan yang satu kekeuasaan yang lain dengan kecepatan yang mengherankan. Hasut menghasut, pembunuhan dan pemberontakan merupakan adegan yang biasa terjadi. Ibn khaldun meski sempat dipenjarakan dua tahun, ia tetap hidup di tengah-tengah malapetaka itu. 
Selanjutnya pada tahun 1362 M , Ibn Khaldun menyeberang ke Spanyol dan bekerja pada Raja Granada. Di Granada ia menjadi utusan raja untuk berunding dengan Pedro,Raja Granada,Raja Castila, sedangkan di Sevilla, karena kecakapannya yang luar biasa, ia ditawari bekerja oleh penguasa kristen itu. Sebagai imbalannya, tanah-tanah bekas milik keluarganya di kembalikan kepada Ibn Khaldun, tetapi Ibn kaldun memilih tawaran yang sama dari raja Granada. Kesanalah ia memboyong keluarganya ke Afrika.
Khaldun tidak lama di Granada. Kecakapan dan prestasinya yang diperlihatkan selama itu setelah menimbulkan iri hati para menteri. Itulah sebabnya ia mencari menyebrangi Giblatar untuk kembali ke Afrika, kemudian ia diangkat menjadi Perdana Mentri oleh Sultan Aljazair dan beberapa kali memimpin pasukan tentara dalam medan pertempuran.
Ketenangan hidup baru ia jumpai setelah melepaskan semua jabatan resminya. Dan pada waktu itu menciptakan karyanya yang monumental, yaitu Muqaddimah dan kitab Sejarah Alam Semesta.setelah itu ia kembali ke Tunisia. Namun oleh karena itu ia menghadapi masalah yang sama seperti yang dialami di Granada, maka ia memutuskan diri untuk naik haji. Dan pada tahun 1382 M, ia pergi ke iskandariah. Tetapi dalam perjalanan hajinya ia singgah di Mesir. Rakyat dan raja Mesir yang cukup mengenal reputasi khaldunlah yang menyebabkan ia tidakmelanjutkan perjalanan hajinya. Di daerah ini ia di tawari jabatan guru kemudian ketua Mahkamah Agung dibawah pemerintahan Dinasti Mamluk.
 Dengan jabatan yang terakhir itu, ia bukan saja mengalami masalah sama yang dialami di Granada dan Aljazair, tetapi juga telah menyebabkan ia kehilangan keluarga dan harta bendanya. Musibah semacam ini, disamping membuat ian menjadi semakin taat, juga telah membangkitkan kembali niat untuk menunaikan hajinya. Niat itu baru terlaksana tiga tahun kemudian, yaitu pada tahun 1387 M. Namun, untuk hidup tenang di Kairo setelah pulang haji tidak tercapai. Sebab, kemampuannya yang luas itu telah mengundang Sultan Mamluk untuk memanfaatkannya. Bersama-sama dengan hakim dan ahli hukum lainnya ia dibawa sultan ke Damaskus, kota yang terancam gempuran tentara Timur Lenk. Damaskus tidak dapat dipertahankan dan sultan bersama tentaranya mundur ke Mesir. Namun Khaldun dan beberapa orang terkemuka lainnya tetap tibak pulang. Ia diserahi tugas berunding mengenai penyerahan kota itu ke tangan Timur Lenk. Di tangan Timur Lenk, Damaskus dihancurkan. Tetapi khaldun berhasil menyelamatkan bukan hany dirinya, melainkan juga beberapa orang terkemuka anggota tim perundingan ke Mesir. Di Mesir ia tetap menjadi seorang besar. Sebab tidak lama kemudian ia kembali kejabatannya semula, sebagai Ketua Makhamah Agung. Ia meninggal pada tahun 1406 M  dalam usia 74 tahun, bersama jabatan yang dipegangnya. Kini Ibn Khaldun selain dikenak sebagai filosof, juga sebagai sosiolog yang memiliki perhatian yang besar terhadap bidang pendidikan. Hal ini antara lain terlihat dari pengalamannya sebagai guru yang berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat yang lain.

B.     Konsep Pendidikan Ibn Khaldun
1.    Pandangan tentang manusia didik
Menurut khaldun, manusia bukan merupakan produk nenek moyangnya, akan tetapi produk sejarah, lingkungan sosial, lingkungan alam, adat istiadat. Karena itu, lingkungan sosial merupakan pemegang tanggungjawab dan sekaligus memberikan corak perilaku seorang manusia. Hal ini memberikan arti, bahwa pendidikan menempati posisi sentral dalam membentuk manusia ideal yang diinginkan.
Pandangan khaldun tentang pendidikan islam berpijak pada konsep dan pendekatan filosofis empiris. Melalui pendekatan ini, memberikan arah terhadap visi tujuan pendidikan islam secara ideal dan praktis. Meski ia tidak mengkhususkan sebuah bab atau pembahasan mengenai tujuan pendidikan islam, namun dari uraiannya memberikan kesimpulan terhadap arah tujuan pendidikan yang diinginkan. Menurutnya, paling tidak ada 3 tingkatan tujuan yang hendak dicapai dalam proses pendidikan, yaitu:
1)      Pengembangan kemahiran (al-malakah atau skill) dalam bidang tertentu. Orang awam bisa memiliki pemahaman yang sama tentang suatu persoalan dengan seorang ilmuan. Akan tetapi, potensi al-malakah tidak bisa dimiliki oleh setiap orang, kecuali setelah ia benar-benar memahami dan mendalami satu disiplin tertentu. Dalam hal ini, diperlukan pendidikan yang sistematis dan mendalam.
2)      Penguasaan keterampilan profesional sesuai dengan tuntutan zaman (link and match). Dalam hal ini, pendidikan hendaknya ditujukan untuk memperoleh keterampilan yang tinggi pada profesi tertentu. Pendekatan ini akan menunjang kemajuan dan kontinuitas sebuah kebudayaan, serta peradaban umat manusia di muka bumi. Pendidikan yang meletakkan keterampilan sebagai salah satu tujuan yang hendak dicapai, dapat diartikan sebagai upaya mempertahankan dan memajukan peradaban secara keseluruhan.
3)      Pembinaan pemikiran yang baik. Kemampuan berfikir merupakan garis pembeda antara manusia dengan binatang. Oleh karena itu pendidikan hendaknya diformat dan dilaksanakan dengan terlebih dahulu memperhatikan pertumbuhan dan perkembangan potensi-potensi psikologis peserta didik. Melalui pengembangan potensi akal, akan dapat membimbing peserta didik untuk menciptakan hubungan kerjasama sosial dalam kehidupannya, guna mewujudkan kesejahteraan hidup di dunia dan akhirat. Untuk mencapai tujuan tersebut, maka keberadaan pendidikan merupakan kebahagiaan integral dari konstruksi sebuah peradaban. Proses ini merupakan upaya mulia karena berhubungan dengan penyebaran ilmu pengetahuan. Upaya tersebut merupakan salah satu tugas manusia sebagai khalifah fi al-ardh.
Seorang pendidik hendaknya memiliki pengetahuan yang memadai tentang perkembangan psikologis peserta didik. Pengetahuan ini akan sangat membantunya untuk mengenal setiap individu peserta didik dan mempermudah dalam melaksanakan proses belajar mengajar. Para pendidik hendaknya mengetahui kemempuan dan daya serap peserta didik. Kemampuan ini akan bermanfaat bagi memtapkan materi pendidikan yang sesuai dengan tingkat kemampuan peserta didik. Bila pendidik memaksakan materi diluar kemampuan peserta didiknya,maka akan menyebabkan kelesuan mental bahkan kebencian terhadap ilmu pengetahuan yang diajarkan. Bila ini terjadi, maka akan menghambat proses pencapaian tujuan pendidikan. Oleh karena itu diperlukan keseimbangan antara materi pelajaran yang sulit dan mudah dalam cakupan materi pendidikan.
    
2.      Pandangan tentang ilmu
Selanjutnya Ibn Khaldun mengatakan bahwa adanya perbedaan lapisan sosial timbul dari hasil kecerdasannya yang diproses melalui pengajaran. Hal ini berbeda dengan apa yang diduga oleh sebagian orang yang mengatakan bahwa peradaban ini bersumber pada perbedaan hakekat kemanusiaan.
Berkenaan dengan ilmu pengetahuan, Ibn Khaldun membaginya menjadi tiga macam, yaitu:
a.       Ilmu lisan (bahasa) yaitu ilmu tentang tata bahasa (gramatika), sastra atau bahasa yang tersusun secara puitis (sya’ir).
b.      Ilmu naqli, yaitu ilmu yang diambil dari kitab suci dan sunnah nabi, ilmu ini berupa membaca kitab suci al-qur’an dan tafsirnya, sanad dan hadits yang pentashihannya serta istimbat tentang kaidah-kaidah fiqh. Dengan ilmu ini manusia akan dapat mengetahui hukum-hukum Allah yang diwajibkan kepada manusia. Dari al-qur’an itulah  didapati ilmu tafsir, ilmu ushul fiqih yang dapat dipakai untuk menganalisa hukum-hukum Allah itu melalui cara istimbath.
c.       Ilmu aqli, yaitu ilu yang dapat menunjukkan manusia dengan daya fikir atau kecenderungannya kapada filsafat dan semua ilu pengetahuan. Termasuk didalam katagori ilmu ini adalah ilmu mantiq (logika), ilmu alam, ilmu ketuhanan, ilmu teknik,ilmu hitung,ilmu tingkah laku (behavior) manusia, termasuk juga ilmu sihir dan ilmu nujum (perbintangan). Mengenai ilmu nujum, Ibn Khaldun menganggapnya sebagai ilmu yang fasid, karena ilmu ini dapat digunakan untuk meramal segala kejadian sebelum terjadi atas dasar perbintangan. Hal itu merupakan sesuatun yang bathil, berlawana dengan ilmu tauhid yang menegaskan bahwa tidak ada yang menciptakan kecuali Allah sendiri.
Diantara ilmu tersebut ada yang harus diajarkan kapada anak didik  yaitu :
1.      Ilmu syari’ah dengan segala jenisnya.
2.      Ilmu filsafat seperti ilmu alam dan ilmu ketuhanan.
3.      Ilmu alat yang membantu ilmu agama seperti ilmu bahasa, gramatika, dan sebagainya.
4.      Ilmu alat yang membantu ilmu falsafah seperti ilmu mantiq.
Selain itu Ibn Khaldun berpendapat bahwa al0qur’an adalah ilmu yang pertama kali harus diajarkan kepada anak, karan mengajarkan kepada anak-anak termasuk syari’at islam yang dipegang teguh oleh para ahli agama dan dijunjung tinggi oleh setiap negara islam. Al-qur’an yang telah ditanamkan pada anak didik akan jadi pegangan hidupnya, karena pengajaran pada masa kanak-kanak masih mudah, karena otak si anak masih jernih.
3.      Metode pengajaran
Menurut ibn khaldun bahwa mengajarkan pengetahuan kepada pelajar hanyalah akan bermanfaat apabila dilakukan denga berangsur-angsur, setapak demi setapak dan sedikit demi sedikit. Pertama-tama ia harus diberi pelajaran tentang soal-soal mengenai setiap cabang pembahasan yang dipelajarinya. Keterangan-keterangan yang diberikan harus secara umum, dengan memperhatikan kekuatan fikiran pelajar dan kesanggupannya memahami apa yang diberikan kepadanya. Apabila dengan jalan itu seluruh pembahasan pokok telah dipahami, maka ia telah memperoleh keahlian dalam cabang ilmu pengetahuan tersebut, tetapi itu baru sebagian keahlian yang belum lengkap. Sedangkan hasil keseluruhannya dengan segala seluk-beluknya. Untuk itu jika pembahasan yang pokok itu belum dicapai dengan baik, maka harus diulanginya kembali hingga dikuasai benar.
             Kita menyaksikan banyak guru dari generasi kita ini yang tidak tahu sama sekali tentang cara-cara mengajar, akibatnya memberikan pelajaran kepada pelajar sejak dari permulaan hingga akhir permasalahan-permasalahan yang sukar dan menuntutnya supaya memecahkan masalah-masalah tersebut.
            Dalam hubungannya dengan ilmu kepada anak didik, Ibn Khaldun menhajarkan agar para guru mengajarkan ilmu penetahuan kapada anak didik dengan metode yang baik dan mengetahui faedah yang dipergunakannya dan seterusnya. Ibn Khaldun lebih lanjut mengemukakan kesulitan yang dihadapi pelajar yang didasarkan pada penglihatannya yang tajam terhadap para pelajar yang dijumpainya. Kesalahan tersebut disebabkan karena para pendidik tidak menguasai ilmu jiwa anak. Menurutnya seseorang yang dahulunya diajarkan dengan cara kasar, keras dan cacian, akan mengakibatkan gangguan jiwa pada si anak.anak yang demikian cenderung menjadi pemalas dan pendusta, murung dan tidak percaya diri serta berpengarai buruk, memgemukakan sesuatu yang tidak sesuai dengan keadaan yang sebenarnya yang disebabkan ia merasa takut dipukul.
            Sejalan dengan pemikirannya itu, Ibn khaldun menganjurkan agar pendidik bersifat sopan dan halus pada muridnya. Hal ini termasuk juga sikap orang tua sebagai pendidik yang utama. Selanjutnya jika keadaan memaksa harus memulul si anak, maka pukulan tersebut tidak boleh lebih dari tiga kali.
4.      Spesialisasi
Menurut Ibn khaldun,orang yang mendapat keahlian dalam suatu pertukangan jarang sekali yang ahli dalam pertukangan lainnya, misalnya tukang jahit. Hal ini disebabkan karena sekali seseorang telah menjadi ahli dalam menjahit hingga keahliannya itu hingga tertanam berurat berakar dalam jiwanya, maka setelah itu dia tidak akan ahli dalm pertukangan kayu dan batu, kecuali apabila keahlian yang pertama itu belum tertanam dengan kuat dan belum memberi corak terhadap pemikirannya. Hal ini juga didasarkan pada alasannya bahwa keahlian itu adalah sikap atau corak jiwa yang tidak dapat tumbuh serempak. Dan mereka yang pikirannya masih mentah, dan dalam keadaan masih kosong akan lebih mudah mendapat keahlian-keahlian baru yang dapat mereka peroleh dengan lebih mudah. Tetapi apabila jiwa itu telah bercorak dengan semacam keahlian tertentu dan tidak lagi dalam keadaan kosong, maka cetakan keahlian itu akan menjadikan jiwa itu kurang tertarik dan kurang bersedia menerima keahlian-keahlian baru.
Dari uraian tersebut di atas, terlihat bahwa Ibn Khaldun adalah seorang tokoh yang menaruh perhatian yang besar terhadap pendidikan. Konsep pendidikan yang dikemukakannya tampak sangat dipengaruhi oleh pandangannya terhadap manusia sebagai makhluk yang harus di didik, dalam rangka menjalankan fungsi sosialnya ditengah-tengah masyarakat. Pendidikan adalah alat untuk membantu seseorang agar tetap hidup bermasyarakat dengan baik.
     



























BAB III
PENUTUP

A.    KESIMPULAN
Filsafat adalah berfikir secara mendalam ,sistematik, radikal, universal, dalam rangka mencari kebenaran, inti atau hakikat mengenai segala sesuatu yang ada. Menurut Ibn Kaldun ada suatu konsep pendidikan yang perlu untuk dibahas yaitu:
ü  Pandangan tentang manusia didik
Disini manusia harus saling tolong menolong ,yang kemudian memiliki sikap hidup bermasarakat.
ü  Pandangan tentang ilmu
Kaldun membagi menjadi tiga macam ilmu yaitu ilmu lisan,ilmu naqli,ilmuaqli.
ü  Pandangan tentang metode pengajaran
Kaldun berpendapat pengajaran dilakukan secara berangsur dan perlahan.
ü  Spesialisasi
Orang yang mendapat keahlian dalam suatu pertukaran jarang sekali yang ahli dalam pertukaran lainnya.
B.     SARAN
ü  Dengan adanya berbagai pemikiran mahasiswa dapat berfikir yang lebih baik.
ü  Dapat dijadikan tambahan berfikir yang logis dan sistematis.’b


Tidak ada komentar:

Posting Komentar